Kisah Jenderal dan Mata Uang



Mungkin sudah banyak yang mendengar cerita yang satu ini. Saya terakhir diingatkan kembali saat kemarin sedang mendengarkan khotbah romo (baca pemimpin agama orang katolik) di gereja saya. Kisah tentang seorang jenderal dan mata uang.

Alkisah jaman dahulu kala ada seorang jenderal yang gagah berani, memimpin pasukannya maju perang. Disuatu perjalanan menuju medan perang, jenderal tersebut mendapatkan informasi bahwa kekuatan musuh yang akan dihadapinya jauh diatas kekuatan pasukannya. Hal ini menyebabkan mental pasukannya menjadi melemah dan takut menghadapi pertempuran itu. Jenderal tersebut kemudian berhenti disuatu tempat untuk berdoa. Tak lama kemudian, jenderal itu maju kehadapan pasukannya dan berkata "Prajuritku, sebentar lagi kita akan menghadapi musuh yang sangat hebat. Saya akan melempar sekeping uang logam ini keatas. Jika saat mendarat nanti gambar kepala yang berada diatas, itu artinya kita akan menang. Namun jika gambar ekor, kita kalah." Segenap prajuritnya diam seketika saat jenderal itu melemparkan uang keatas. Tak lama kemudian ternyata gambar kepala-lah yang berada diatas. Spontan seluruh pasukkan berteriak kegirangan seakan mendapat kekuatan yang luar biasa.

Tak lama kemudian, perang berkobar. Jenderal tersebut berhasil memimpin pasukannya memenangi perang tersebut. Pada saat perayaan kemenangan perang malam harinya, ada seorang panglima perang yang berkata kepada jenderal itu. "Jenderal, apa jadinya bila saat anda melemparkan koin yang diatas adalah ekor?"

Jenderal tersebut kemudian tertawa sambil menunjukkan mata uang yang dia lempar kepada panglimanya. Ternyata kedua sisi mata uang itu bergambar kepala semuanya.

Banyak orang yang percaya atau yakin dengan suatu hal yang menurut mereka itu adalah benar. Salah satu contoh lain adalah saat Ponari dukun cilik menyihir masyarakat Indonesia untuk yakin dan percaya kepada kesaktiannya. Kepercayaan atau keyakinan ini secara tidak disadari akan memberikan pengaruh dan sugesti terhadap seseorang. Jika anda mengalami kesulitan untuk meyakinkan orang lain tentang suatu hal, anda dapat mengambil inti dari cerita ini untuk membantu anda.

Jangan Pilih Saya, Pilih Saja Caleg Yang Lain



Saat mulai mendekati masa-masa pemilu legistlatif 2009 lalu, perhatian saya saat berkendara sering tertuju pada poster-poster caleg yang mempromosikan dirinya untuk dipilih menjadi wakil rakyat. Banyak slogan-slogan mantap yang dituliskan di posternya, termasuk juga membawa nama besar seseorang untuk menambah positioning mereka dibelantika bursa caleg. Ada yang membawa nama besar Megawati Soekarnoputri, ada juga yang membawa nama besar David Beckham, bahkan ada yang dengan suka rela "menurunkan martabat" nya dengan berpakaian aneh ala superhero untuk menarik perhatian.


Di salah satu jalan yang saya lewati saat berangkat dan pulang kerja, saya tertarik dengan sebuah poster caleg. Saya tidak ingat namanya dan dari partai apa. Yang menjadi ketertarikan saya adalah tulisan yang ada di poster itu. "Jangan Pilih Saya, Pilih Saja Caleg Yang Lain". Saya cukup heran, mengapa dia menuliskan seperti itu. Sebagai informasi, di posternya itu, maaf, dia menggunakan kursi roda. Apakah karena dia merasa mempunyai keterbatasan secara fisik? Atau dia memanfaatkan momentum itu untuk mendapatkan atensi publik.

Saya jadi teringat sedikit pelajaran waktu di bangku kuliah dulu tentang psikologi industri. Saya bukan orang psikologi, tapi pernah mengikuti mata kuliah itu. Salah satu topiknya adalah tentang asosiasi. Asosiasi dikatakan sebagai hubungan antara tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lain dan saling memproduksi. Salah satu yang termasuk dalam asosiasi adalah hukum berlawanan, yaitu tanggapan-tanggapan berlawanan, berhubungan dan saling mereproduksi. Jelas-jelas apa yang ingin dicapai dalam kampanye caleg itu adalah dia ingin menjadi seorang caleg. Namun dalam poster yang dia gunakan, dia menggunakan kata-kata yang berlawanan, "Jangan pilih saya".

Metode semacam ini sadar atau tidak sering kita dapatkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Saat kita dihadapkan kepada suatu masalah, sering kita menggunakan hukum berlawanan ini untuk menyelesaikan suatu masalah. Baik itu attack atau defense. Pada kenyaataannya metode ini menjadi cukup populer. Saya belum sempat mengecek apakah caleg itu menang dalam pemilu legislatif lalu, tapi saya hanya ingin mengkomentari metode kampanye dari dia yang cukup menarik perhatian.

Jika tertarik, anda dapat mencoba menggunakan metode ini dalam menghadapi suatu masalah.

Sedang Asyik Bercerita Ditinggal ke Toilet



Masih tentang training saya terakhir di Ciawi, ada satu sesi tentang komunikasi yang diberikan oleh trainer. Hampir disetiap leadership training diberikan sesi komunikasi. Dan disemua training yang saya dapat, selalu ada contoh kasus yang serupa. Saya pertama kali mendapatkannya waktu kuliah. Saya mempunya seorang dosen yang terkenal cukup 'freak' dimata mahasiswa pada waktu itu. Saya pun pada mulanya menganggap beliau demikian. Namun pada akhirnya, saya mengerti kenapa dia berbuat yang dianggap 'freak' oleh para mahasiswa-nya.

Waktu itu salah satu pokok bahasan kuliahnya tentang komunikasi. Beliau meminta 2 orang mahasiswa untuk maju ke depan kelas dan melakukan conversation. Namun dalam conversation ini ada rules nya dimana yang seorang bercerita, seorang lainnya harus bersikap cuek. Hasilnya waktu ditanya, menurut yang bercerita sangatlah tidak enak dan tidak nyaman berbicara dengan orang lain yang tidak memperhatikan kita.

Memang benar demikian adanya. Saya mendapatkan contoh seperti ini dalam setiap training leadership yang saya ikuti. Sampai terakhir 3 hari yang lalu. Peserta training yang berjumlah 40 orang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama bertugas sebagai story teller. Mereka harus menceritakan kepada pasangannya masing-masing tentang hal-hal menarik dalam 1 bulan terakhir. Kelompok kedua yang menjadi pasangannya bertugas untuk menjadi pendengar yang tidak baik. Masing-masing mempunyai role yang sudah ditentukan. Misalnya mendengarkan sambil bermain HP, mendengarkan kemudian tidak memperhatikan lagi, ada yang pura-pura lupa dan minta diulang. Yang paling parah adalah role yang saya dapatkan, yaitu meninggalkan lawan bicara ke toilet setelah 1 kalimat diceritakan. Cukup fun dalam sesi itu, pasangan bicara saya yang kebetulan adalah atasan langsung saya sempat emosi beneran karena beliau tidak tahu saya harus memainkan peran seperti itu.


Banyak hal penting yang mungkin jarang kita sadari saat kita melakukan komunikasi dengan orang lain. Salah satu trainer saya waktu itu yang kebetulan juga seorang psikolog mengemukakan suatu fakta, bahwa ternyata banyak sekali orang di Indonesia ini yang memerlukan tempat untuk bercerita. Tidak perlu sampai memberikan solusi, mau mendengarkan saja dirasa sudah cukup bagi orang itu. Namun faktnya, kadang kala apa yang kita lakukan saat mendengarkan orang lain berbicara dapat membuat orang yang berbicara tadi menjadi kehilangan mood. Contohnya seperti tadi diatas, bermain HP, atau bahkan menerima telpon dari orang lain. Pernahkan anda mengalami hal seperti itu? Jika anda pernah merasa jengkel saat berbicara dengan orang lain karena tidak diperhatikan, berarti seharusnya anda sudah mengert bagaimana cara mendengarkan orang lain saat mereka berbicara.

Kontak mata adalah salah satu hal penting saat berkomunikasi. Tunjukkan juga bahwa anda mendengarkan dengan tulus. Konsentrasi dengan hal-hal penting yang menjadi pokok pembicaraan. Hati-hati dengan miss hearing. Orang menyebutkan "mendingan" didengar sebagai "meninggal". Fatal sekali. Oleh karena itu, mendengar bukanlah hal yang mudah. Untuk mendengar dengan tulus, anda perlu berkonsentrasi dan membuka hati anda.

Trust me, I can hear you!

4E + P = Perfect Leader



Saya baru saja mengikuti training yang diadakan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Training ini ditujukan untuk para leader di perusahaan. Kebetuluan saya menjadi salah seorang leader. Bertempat di daerah Ciawi, daerah yang sejuk dan cenderung dingin, saya dan beberapa peserta dari luar Jakarta berangkat langsung dari airport Soekarno-Hatta menuju ke lokasi. Karena keterbatasan waktu, akhirnya tiba disana acara langsung dimulai, tidak sempat beristirahat. Acara dimulai dengan sosialisasi peraturan baru di perusahaan. Hampir semua peserta termasuk saya kelihatannya masih belum tune karena kelelahan. Saat pembicara dari HRD menyapa, muncul jawaban yang lemas dari peserta.

Setelah sesi berakhir, CEO perusahaan saya muncul ke depan. Beliau mengucapkan salam. Dan anehnya, semua peserta langsung menjawab dengan semangat, termasuk saya. Saya sendiri cukup kaget. Ada 2 hal yang waktu itu ada dipikiran saya, CEO saya mempunya aura leadership yang kuat, atau karena sesi sebelumnya sangat membosankan.

Ada sebuah pesan yang diucapkan oleh CEO, beliau mengutip dari Jack Welch, mantan CEO dari General Electric. Beliau menyampaikan, seorang leader harus mempunyai 5 hal penting:

Energy
Setiap leader harus mempunya energy (positif). Coba saja kita bayangkan, apabila kita mempunya pemimpin yang lemes, tidak bergairah, bagaimana mungkin bawahannya akan menjadi bersemangat. Bagi saya, energi yang harus dimiliki oleh seorang leader adalah energi positif yang berlipat ganda. Butuh motivasi khusus bagi seorang leader untuk mempunyai energi. Tidak hanya secara fisik, tapi juga secara mental. Yang saya lihat pada waktu itu, CEO saya tampil di depan dengan energy yang masih full. Wajahnya terlihat cerah dan bersemangat. Mungkin hal ini yang menyebabkan peserta langsung memberikan respon positif dan bersemangat saat disapa.

Energize
Energize adalah suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang leader untuk memberikan energi kepada orang lain. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan apabila poin pertama tadi sudah dapat dilakukan. Bagaimana mungkin dapat memberikan suntikan energi kepada orang lain jika dirinya sendiri belum mempunyai energi yang cukup. Baca disini. Proses meng-energize orang lain bukanlah suatu hal yang mudah. Butuh pengalaman dan energi extra plus kesabaran yang cukup. Hal ini terkait dengan proses conseling, yang kebetulan menjadi salah satu topik dari training yang diadakan.

Edge
Edge dikatakan sebagai suatu kemampuan untuk memberikan suatu keputusan. Antara A dan B, antara Ya dan Tidak. Mengambil suatu keputusan adalah satu hal yang tidak mudah. Banyak leader sering terjerumus saat membuat keputusan. Ada satu pesan menarik dari senior saya, sebagai seorang pemimpin, kita diharuskan untuk memutuskan sesuatu. Apa yang telah menjadi keputusan kita, terlepas itu baik atau buruk, entah itu benar atau salah, harus dijalankan terlebih dahulu sebelum direvisi. Hal ini akan membantu seorang leader dalam meng-influence bawahannya. Leader yang plin plan akan menjadi negatif dimata bawahan. Jadi apapun yang telah diputuskan, harus terlebih dahulu dijalankan sebelum direvisi.

Execute
Seorang pemimpin yang mempunyai energi, mampu meng-energize orang lain, dan dapat mengambil keputusan yang tepat, tidak akan berarti banyak jika dia tidak mampu untuk menjalankan apa yang sudah diputuskan itu tadi. Jika keputusan tepat namun tidak dijalankan, hal ini akan means nothing. Oleh karena itu, seorang leader harus dapat menjadi seorang eksekutor juga.

Passion
Perfect leader tidak akan sempurna jika 4E tadi tidak ditambah dengan 1P, yaitu Passion. Passion diartikan sebagai suatu gairah dan semangat yang dimiliki oleh seorang leader dalam upayanya memperhatikan leadership skill nya. Bagaimana dia secara senantiasa memberikan support kepada bawahan, memperhatikan kondisi bawahan, memberikan semangat yang tak kunjung henti. Motivasi dari seorang leader akan sangat berarti kepada bawahannya.

Proses menjadi seorang perfect leader tidaklah mudah. Butuh waktu yang lama. Ada pepatah yang mengatakan, "Pengalaman adalah guru yang terbaik". Memang semakin lama anda menjadi seorang leader, skill leadership anda akan semakin matang. Banyak hal-hal baru yang dapat menjadi pelajaran berharga buat seorang leader. Tak jarang pengalaman dimasa lalu akan membuat seorang leader menjadi lebih besar di masa berikutnya.

4E + P = Perfect leader, selamat mencoba!

Sudahkah Orang Mengingat Nama Anda?



Orang tua saya mempunyai sebuah toko barang-barang kebutuhan sehari-hari. Kadang kala waktu saya tidak malas, saya ikut membantu menjaga toko, maklum masih kecil, pengennya main terus. Suatu hari, ada seorang pembeli, ibu-ibu tua, berkata kepada saya, "Mas, mau beli Blue Band dong".Saya bertanya kepada ibu itu, "Yang besar atau yang kecil Bu?" Ibu itu menjawab, "Yang kecil aja". Saya segera mengambilkan si Blue Band. Waktu saya memberikan Blue Band kepada ibu itu. Kemudian ibu itu berkata lagi, "Oh bukan yang ini mas, yang itu" dia menunjuk margarine merk lain.

Itu adalah satu dari sekian banyak brand di Indonesia yang di-salah kaprah-kan. Jika tidak salah, Jaya Suprana menyebutnya sebagai kelirumologi. Lain hal nya dengan Jaya Suprana, dosen saya waktu kuliah dulu, Kresnayana Yahya, menyebutnya sebagai ilmu Brand Management. Bagaimana membuat brand image dari suatu produk menjadi nomer 1 di masyarakat. Banyak contoh kasus lain selain "Blue Band". Softex dan Aqua merupakan 2 contoh brand yang bertahun-tahun menjadi penguasa di Indonesia.

Hubungannya dengan judul diatas apa? Saya tidak menulis tentang ilmu Brand Management, karena saya nothing dalam hal itu. Saya hanya mencoba mengaitkan dengan image kita sebagai manusia. Jika saya menyebut microsoft, nama orang yang ada di benak anda adalah? Bill Gates. Sekarang bagaimanakah nama anda diingat oleh orang-orang di sekitar anda? Tidak usah muluk-muluk diingat diseluruh dunia. Cukup kita mulai dengan orang-orang disekitar anda.

Saya punya seorang mantan rekan kerja yang sangat dikenal di kantor saya dulu, dan bahkan sampai sekarang jika saya berkumpul dengan teman-teman kantor lama untuk sekedar makan malam atau minum kopi, masih muncul image yang sama tentang orang tersebut. Dia diingat karena sifatnya yang seenaknya sendiri, sok berkuasa, padahal dia tidak mempunyai kemampuan apa-apa, dan hasil kerja tidak terlalu bagus. Kok semuanya hal jelek ya? Memang, manusia lebih mudah merekam hal-hal yang negatif dalam otak mereka, dibandingkan dengan hal-hal yang bagus. Tak heran jika banyak orang menjadi lebih mudah sakit hati dibandingkan menjadi bahagia.

Kembali ke topik utama tulisan ini, "Sudahkah orang mengingat nama anda?" Mengingat dalam artian hal yang bagus. Misalkan jika menyebut nama Kartini, yang terlintas adalah seorang pahlawan wanita Indonesia yang terkenal karena memperjuangkan emansipasi wanita Indonesia. Bagaimana dengan anda? Apa yang terlintas dipikiran teman-teman anda saat anda menanyakan arti nama anda kepada mereka? Hal-hal baik? Atau buruk? Jika lebih banyak hal buruk daripada yang baik, berarti anda perlu meng-improve diri anda untuk menjadi lebih baik.

Buat orang menyebutkan nama anda saat ada pertanyaan, "Siapa teman anda yang paling baik?" Buat orang mengingat anda untuk hal-hal yang positif. Jadilah seperti Blue Band, Softex dan Aqua di dalam kehidupan ini

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting Coupons