Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan

Trust Fall

Bagi orang-orang yang akrab dengan pelatihan outbound, jenis permainan ini pasti sudah tidak asing lagi. Setelah sekian lama tidak memainkan permainan ini, akhirnya minggu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk kembali bermain trust fall.

Trust fall adalah salah satu bentuk permainan dalam outbound training yang diberikan untuk melatih kepercayaan terhadap orang lain. Cara permainannya sangatlah mudah. Seorang anggota team akan berdiri diatas sebuah kayu yang telah disusun sedemikian rupa sehingga tinggi nya melebihi tinggi manusia, tempat ini berfungsi sebagai pijakan untuk melakukan trust fall. Anggota team lain akan berada di bawah, membentuk sebuah dasar landasan untuk mendarat dari rangkaian tangan.

Pertama kali memainkan trust fall adalah saat saya berada di kampus, waktu acara camp mahasiswa. Minggu lalu saat mengikuti Leadership Training di Ciawi, kebetulan ada permainan yang sama. Saya mencoba terjun pertama kali. Mengapa memilih pertama? Salah satu alasan dasar sih karena belum ada sukarelawan yang mau naik. Ditambah juga saya mencoba untuk melatih diri sendiri. Toh ya tujuan dari training itu adalah laedership. Salah satu tugas leader adalah "Ing Ngarso Sung Tulodho", seperti kata Ki Hajar Dewantoro dahulu. Yang di depan mesti memberi contoh. Cukup fun permainan ini. Dengan berbekal kepercayaan terhadap rekan team yang lain, dengan mantab saya menjatuhkan diri sesuai dengan instruksi dari trainer dan sejenak kemudian, rekan-rekan di bawah sudah menerima saya dengan aman.

Tidak semua orang dapat sukses memainkan trust fall ini. Hal dasar yang membuat mereka gagal adalah rasa takut dan tidak percaya yang muncul dari dalam diri. Takut akan jatuh, dan tidak percaya bahwa rekan-rekan di bawah akan menolong. That's why permainan ini dinamakan Trust Fall. Sebagai seorang leader, salah satu yang harus kita punya adalah kepercayaan. Percaya dengan rekan kita, percaya dengan kemampuan kita.

Hari Pertama Masuk Sekolah



Salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh orang tua adalah saat hari pertama anaknya masuk sekolah. Banyak teman-teman saya yang beberapa waktu lalu menuliskan shoutout di status online-nya dengan kalimat "Akhirnya si kecil sekolah juga", atau dengan "Asikkk akhirnya anakku sekolah", dan masih banyak lagi ungkapan kegembiraan serupa.

Kemarin siang, seorang teman menghubungi saya, dia adalah mantan rekan kerja saya di tempat kerja saya yang lama. Kebetulan dia satu divisi dengan saya. Dia menceritakan bahwa dia dimutasi kebagian lain dan di down grade ke level terbawah. Saya sangat suprise mendengarnya karena kabar terakhir yang saya terima 2 minggu lalu adalah teman saya itu sudah menduduki posisi kepala department. Singkat kata akhirnya semalam dia main ke rumah, bercerita panjang lebar tentang problematika yang dialaminya.

Saya cukup ngeri membayangkannya bila saya yang berada di posisi dia. Statement yang keluar dari mulutnya adalah dia tetap akan menjalani hal ini, karena toh dia pun dulu start masuk kerja juga dari level yang paling bawah. Saya sempat berpikir dalam hati, saya tidak yakin dengan statement dia itu. Mungkin secara fisik dia siap menghadapai pekerjaan yang baru. Yang jelas-jelas berbeda dengan pekerjaan sehari-hari nya dulu. Salary jelas akan turun drastis, namun ini bukan satu big problem. Yang akan menjadi masalah besar menurut saya adalah mental. Anda bisa membayangkan bagaimana seorang yang menjabat sebagai leader, akhirnya harus menjadi seorang operator. Down grade 2 level saya pikir adalah satu hal sangat drastis dalam satu perusahaan. Saya pikir kekuatan mentalnya akan benar-benar diuji saat hari pertama dia menjalani pekerjaan barunya itu.

Saya mengibaratkan hal ini seperti anak yang baru pertama kali masuk sekolah. Anak yang tidak kuat mental kadang sering mencari alasan ini itu untuk tidak sekolah. Semua perasaan campur aduk jadi satu. Saya hanya berharap first day teman saya itu tidak menjadi suatu awal kehancuran, melainkan menjadi satu awal kebangkitan.

Semalam saya banyak memberikan gambaran positif kepada teman saya itu untuk membantunya melalui hal ini. Karena saya percaya, hari ini, hari pertamanya, akan terasa sangat lama. 8 jam bisa terasa seperti 8 tahun. Saya memberikan gambaran kepada dia bahwa dia harus percaya satu hal, jika memang yang dia kerjakan selama ini memang benar, ada di jalan yang lurus, kejadian tersebut tidak akan membuatnya hancur, melainkan membuatnya semakin kuat. Ingat, Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan yang melampaui kekuatan manusia.

4E + P = Perfect Leader



Saya baru saja mengikuti training yang diadakan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Training ini ditujukan untuk para leader di perusahaan. Kebetuluan saya menjadi salah seorang leader. Bertempat di daerah Ciawi, daerah yang sejuk dan cenderung dingin, saya dan beberapa peserta dari luar Jakarta berangkat langsung dari airport Soekarno-Hatta menuju ke lokasi. Karena keterbatasan waktu, akhirnya tiba disana acara langsung dimulai, tidak sempat beristirahat. Acara dimulai dengan sosialisasi peraturan baru di perusahaan. Hampir semua peserta termasuk saya kelihatannya masih belum tune karena kelelahan. Saat pembicara dari HRD menyapa, muncul jawaban yang lemas dari peserta.

Setelah sesi berakhir, CEO perusahaan saya muncul ke depan. Beliau mengucapkan salam. Dan anehnya, semua peserta langsung menjawab dengan semangat, termasuk saya. Saya sendiri cukup kaget. Ada 2 hal yang waktu itu ada dipikiran saya, CEO saya mempunya aura leadership yang kuat, atau karena sesi sebelumnya sangat membosankan.

Ada sebuah pesan yang diucapkan oleh CEO, beliau mengutip dari Jack Welch, mantan CEO dari General Electric. Beliau menyampaikan, seorang leader harus mempunyai 5 hal penting:

Energy
Setiap leader harus mempunya energy (positif). Coba saja kita bayangkan, apabila kita mempunya pemimpin yang lemes, tidak bergairah, bagaimana mungkin bawahannya akan menjadi bersemangat. Bagi saya, energi yang harus dimiliki oleh seorang leader adalah energi positif yang berlipat ganda. Butuh motivasi khusus bagi seorang leader untuk mempunyai energi. Tidak hanya secara fisik, tapi juga secara mental. Yang saya lihat pada waktu itu, CEO saya tampil di depan dengan energy yang masih full. Wajahnya terlihat cerah dan bersemangat. Mungkin hal ini yang menyebabkan peserta langsung memberikan respon positif dan bersemangat saat disapa.

Energize
Energize adalah suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang leader untuk memberikan energi kepada orang lain. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan apabila poin pertama tadi sudah dapat dilakukan. Bagaimana mungkin dapat memberikan suntikan energi kepada orang lain jika dirinya sendiri belum mempunyai energi yang cukup. Baca disini. Proses meng-energize orang lain bukanlah suatu hal yang mudah. Butuh pengalaman dan energi extra plus kesabaran yang cukup. Hal ini terkait dengan proses conseling, yang kebetulan menjadi salah satu topik dari training yang diadakan.

Edge
Edge dikatakan sebagai suatu kemampuan untuk memberikan suatu keputusan. Antara A dan B, antara Ya dan Tidak. Mengambil suatu keputusan adalah satu hal yang tidak mudah. Banyak leader sering terjerumus saat membuat keputusan. Ada satu pesan menarik dari senior saya, sebagai seorang pemimpin, kita diharuskan untuk memutuskan sesuatu. Apa yang telah menjadi keputusan kita, terlepas itu baik atau buruk, entah itu benar atau salah, harus dijalankan terlebih dahulu sebelum direvisi. Hal ini akan membantu seorang leader dalam meng-influence bawahannya. Leader yang plin plan akan menjadi negatif dimata bawahan. Jadi apapun yang telah diputuskan, harus terlebih dahulu dijalankan sebelum direvisi.

Execute
Seorang pemimpin yang mempunyai energi, mampu meng-energize orang lain, dan dapat mengambil keputusan yang tepat, tidak akan berarti banyak jika dia tidak mampu untuk menjalankan apa yang sudah diputuskan itu tadi. Jika keputusan tepat namun tidak dijalankan, hal ini akan means nothing. Oleh karena itu, seorang leader harus dapat menjadi seorang eksekutor juga.

Passion
Perfect leader tidak akan sempurna jika 4E tadi tidak ditambah dengan 1P, yaitu Passion. Passion diartikan sebagai suatu gairah dan semangat yang dimiliki oleh seorang leader dalam upayanya memperhatikan leadership skill nya. Bagaimana dia secara senantiasa memberikan support kepada bawahan, memperhatikan kondisi bawahan, memberikan semangat yang tak kunjung henti. Motivasi dari seorang leader akan sangat berarti kepada bawahannya.

Proses menjadi seorang perfect leader tidaklah mudah. Butuh waktu yang lama. Ada pepatah yang mengatakan, "Pengalaman adalah guru yang terbaik". Memang semakin lama anda menjadi seorang leader, skill leadership anda akan semakin matang. Banyak hal-hal baru yang dapat menjadi pelajaran berharga buat seorang leader. Tak jarang pengalaman dimasa lalu akan membuat seorang leader menjadi lebih besar di masa berikutnya.

4E + P = Perfect leader, selamat mencoba!

Tunjuklah Dengan Tangan Terbuka


Pernahkah anda menunjuk seseorang dengan cara menudingkan tangan?

Ada sebuah joke menarik dari guru SD saya tentang menuding. Saat anda menuding, 2 jari (telunjuk dan ibu jari) akan menunjuk ke lawan bicara anda, sedangkan 3 jari lainnya menunding ke diri anda sendiri. Oleh karena itu tunjuklah orang lain dengan tangan terbuka, sehingga 5 jari akan menunjuk seluruhnya ke lawan bicara anda.

Saya baru saja mendapatkan sebuah pengalaman menarik meng-eksplore manusia. Suatu hal yang sedang saya minati belakangan ini. Meng-ekspore dalam arti eksplorasi secara psikis, bukan fisik. Di tempat saya bekerja, akan dilakukan pergantian kepala regu di suatu bagian tertentu, kebetulan bukan dalam department saya. Pada mulanya hal itu sedikit bersifat confidential. Entah kenapa akhirnya semua karyawan dalam regu tersebut sudah mengetahuinya.

Saya coba bertanya dengan karyawan di regu tersebut tentang kenapa sih mesti ada pergantian kepada tiap-tiap orang secara terpisah. Memangnya ada apa dengan pemimpin yang sekarang. Saya coba sedikit mencari keterangan dari mereka. Hampir semuanya menyebutkan hal-hal buruk tentang kinerja pemimpinnya itu. Kemudian saya bertanya lagi kepada mereka, memang seharusnya bagaimana? Mereka pun dengan semangat menjelaskan apa yang ada di pikiran mereka masing-masing. Akhirnya pertanyaan saya yang terakhir, "Wah Anda mempunya pemikiran yang bagus mengenai hal ini, bagaimana jika anda saja yang menjadi pemimpin regu ini?"

Dan untuk ketiga kalinya juga mereka dengan kompak menjawab, "Waduh.. jangan saya Pak, saya ini bla bla bla bla..."

Satu hal yang selama ini menjadi sifat dasar manusia, ibarat peribahasa waktu SD dulu, "Lempar Batu Sembunyi Tangan". Semua orang tadi dengan lancarnya mengatakan ini itu ini itu, tapi saat dia ditunjuk, hands up!

Bagi saya, kebetulan saya menjadi seorang leader, jika memang Anda tidak punya suatu keberanian untuk melakukan sesuatu, jangan banyak bicara. Itu adalah salah satu nilai yang bagi saya merupakan point penting untuk menjadi pemimpin. Ki Hajar Dewantoro pernah mengajarkan, Ing Ngarso Sung Tulodho, artinya yang di depan memberi contoh. Tidak mudah menjadi seorang leader. Jadi jangan meng-klaim ini itu tentang pemimpin anda jika anda tidak punya keberanian untuk menjadi pemimpin.

Jika anda sudah berani menuding orang, artinya anda sudah siap dengan 3 jari yang mengarah ke diri anda sendiri. Lain hal nya jika anda menunjuk seseorang dengan tangan terbuka, 5 jari yang tulus diarahkan ke orang tersebut, anda pasti mendukungnya dan senantiasa dapat memberi masukan jika terdapat kekurangan pada orang tersebut.

Pilihan Antara Wayne Rooney Dan Christian Vieri


Jika anda penggemar sepak bola, dan sudah menjadi penggila bola sejak lama, pernahkah anda mengamati tipe striker jaman dahulu dengan jaman sekarang? Apa sih bedanya Christian Vieri, mantan penyerang utama timnas Italia dengan Wayne Rooney, punggawa Manchester United sekaligus striker utama timnas Inggris? Bukan karena Bobo, panggilan akrab Christian Vieri, lebih tinggi dari Rooney, bukan juga karena Vieri dari Italia, Rooney asli Inggris, tapi lebih dari cara mereka mendapatkan bola. Wayne Rooney sering kali menjemput bola sampai ke tengah lapangan, sedangkan Vieri lebih suka bertengger di kotak penalty, menunggu umpan dari pemain tengah.

Itulah perbedaan reaktif dan proaktif. Secara harafiah, reaktif dikatakan sebagai hasil suatu stimulan. Orang yang reaktif lebih suka bereaksi dari hal-hal yang dia alami. Sebagai contoh Vieri tadi. Dia lebih suka untuk menunggu dan menunggu, sampai ada bola mendekati dirinya, untuk segera diceploskan ke dalam gawang. Beda halnya dengan proaktif. Sering kali orang berkata, jaman sekarang kita harus sering-sering menjemput bola, rejeki tidak mungkin datang begitu saja. Itulah yang dinamakan proaktif. Kita harus lebih banyak aktif dalam mengerjakan suatu hal untuk mencapai tujuan kita. Wayne Rooney sering menjemput bola dari tengah lapangan, menggiringnya ke depan, sambil sesekali melakukan "One-Two", atau umpan satu dua dengan rekan satu tim nya.

Secara statistik, orang yang bersifat proaktif akan lebih mempunyai peluang dibandingkan dengan orang yang bersifat reaktif. Anggap saja jaman dahulu kala, saat permainan judi SDSB sangat populer di Indonesia, orang sering bermain-main dengan teori probabilitas dan "luck". Pertama kita mengesampingkan faktor "luck" terlebih dahulu. Kita berbicara tentang teori probabilitas. Jika angka 00 sampai dengan 99 dianggap sebagai semesta-nya, maka kemungkinan menang jika kita memasang angka 10 adalah 1 per 100 atau 1%. Setuju? Saya bukan ahli statistik, tapi ini bisa dinalar dengan akal sehat kita. Bagaimana caranya agar kita bisa menang? Logikanya, kita harus meningkatkan persentase kemungkinan menang kita. Kita pasang nomor lain, misal 20. Jika kita memansang 2 nomor, maka kemungkinan kita menang meningkat dari 1% menjadi 2%. Demikian seterusnya, Kesimpulannya, semakin banyak kita memasang nomor, semakin banyak pula kemungkinan kita menang.

Relasi dengan Wayne Rooney dan Christian Vieri
Jika dalam suatu pertandingan sepak bola, jika seorang pemain lebih sering mendapatkan bola untuk ditendang ke gawang, semakin besar juga kesempatan dia untuk mencetak gol. Sama dengan bermain SDSB tadi. Pasang semakin banyak, kemungkinan menang semakin besar pula. Logikanya, jika Wayne Rooney sering menjemput bola dari tengah lapangan, kemungkinan dia mendapatkan bola untuk ditendang ke gawang akan lebih besar jika dibandingkan dengan Christian Vieri yang suka menunggu di dalam kotak penalty. Inilah yang disebut proaktif (Rooney) dan reaktif (Vieri).

Dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak pakar menyarankan kita untuk bersifat proaktif. Steven Covey dalam bukunya "Seven habits of highly effective people" juga mengatakan hal demikian. Dia menganjurkan pembacanya untuk lebih proaktif jika ingin sukses. Sebenarnya budaya orang Indonesia sudah mencerminkan hal demikian. Paling kuat budaya ini saya lihat di orang Madura. Maaf, bukan bermaksud rasis dan mendiskreditkan suku tertentu. Saya sangat kagum dengan sifat proaktif yang dimikin orang Madura. Di beberapa kota, bahkan orang Madura menjadi raja pasar dan raja barang-barang bekas. Padahal yang bermain di wilayah itu tidak hanya orang Madura saja. Mengapa mereka bisa sukses? Karena mereka menggunakan strategi Wayne Rooney, menjemput bola. Mereka tidak hanya duduk diam saja menunggu pedangang. Mereka "belusukan", istilah dalam bahasa Jawa yang kurang lebih artinya adalah masuk ke tempat-tempat pelosok yang susah dijamah orang, mencari resources untuk pekerjaan mereka. That's the point.

Jadi, anda lebih memilih menjadi Wayne Rooney yang proaktif, atau Christian Vieri yang reaktif? Anda yang menentukan.

Bina Atau Binasakan!


Melihat judul diatas, apa yang terlintas dibenak anda? 2 hal tadi adalah salah satu perumpamaan yang sering saya berikan kepada grup leader yang ada di sub ordinat saya. Kata-kata tersebut sering saya suntikkan ke mereka saat mereka mengalami kesulitan untuk me manage tim mereka. Bukannya saya bersikap jahat, namun itulah faktanya. Manusia harus menyadari kodratnya di dunia ini.

Jika anda bekerja sebagai karyawan di suatu perusahaan, anda harus menyadari bahwa anda bukanlah bos-nya. Artinya, anda tidak dapat dengan seenaknya berkelakuan "semau gue". Jika kebetulan anda ditunjuk menjadi perpanjangan tangan bos anda, mungkin sebagai seorang leader atau manager, anda mungkin dapat mempunyai sedikit power untuk bertindak "semau gue".

Terkait dengan judul diatas, hidup manusia tidak pernah terlepas dari yang namanya proses. Suatu proses, bagi saya merupakan jalan untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, kita semua harus melewati banyak hal, entah itu baik maupun buruk. Salah satu hal krusial dalam sebuah pencapaian tujuan adalah pemberdayaan resources atau sumber daya. Dalam hal ini adalah sumber daya manusia. Manusia dengan 1001 macam tingkah lakunya, tidak dapat dipukul rata diperlakukan dengan satu macam perlakuan. Sering kita jumpai beberapa orang yang tidak dapat mendukung proses yang kita lalui. Tidak mendukung dapat disebabkan karena dua hal utama, memang dia tidak mampu, atau dia tidak mau.

Seorang pemimpin akan lebih mudah men-develop tipe bawahan yang pertama, dia tidak mampu. Ketidak mampuan ini erat kaitannya dengan skill. Katakanlah anda bekerja di bagian administrasi, ada bawahan anda yang tidak mampu menggunakan spreadsheet untuk bekerja. Untuk mendevelop nya, anda cukup memberikan training spreadsheet. Ini yang saya sebut sebagai pembinaan.

Lain hal nya dengan faktor ke dua, dia tidak mau. Ini sudah tidak terkait lagi dengan technical skill, melainkan sudah mengarah ke interpersonal. Butuh penanganan khusu, keahlian khusus, pendekatan yang lebih dalam, dan lain sebagai nya, untuk dapat melakukan pembinaan terhadap orang seperti ini.

Sebagai leader, kita harus memperhatikan tim kita. Upaya pembinaan merupakan suatu hal yang sangat diperlukan. Pemberian pelatihan, teguran, surat peringatan, merupakan beberapa contoh dari upaya pembinaan. Seyogianya, pembinaan ini akan membuat seseorang menjadi lebih baik.

Terakhir, jika memang pembinaan yang dilakukan tidak dapat memeberikan perubahan, tidak dapat membantu proses kita mencapai tujuan, sebaiknya orang tersebut kita binasakan saja.

Puji Seseorang di Depan Publik, Ingatkan Dia di Tempat Sepi


Pengalaman hidup pribadi saya saat awal-awal menjadi seorang leader di perusahaan saya bekerja. Kebetulan saat itu saya menjadi seorang Kepala Bagian suatu department. Saya punya kebiasaan melakukan inspeksi ke lapangan, meninjau rutin apa yang orang saya kerjakan dilapangan di waktu-waktu yang tak terduga. One day, waktu saya melakukan hal tersebut, saya melihat ada suatu kejadian yang benar-benar tidak dapat saya tolerir. Bayangkan, bermain bola basket di saat jam kerja. Wow! Saya pribadi suka sekali bermain basket, tapi ya tahu dirilah, jam kerja masa bermain basket.

Tak lama saya menghampiri orang saya tersebut, kebetulan juga dia adalah seorang Kepala Regu. Waktu itu saya langsung mengingatkan dia, dengan nada yang keras, plus juga di hadapan anak buahnya dia. Setelah itu saya tinggalkan mereka. Beberapa menit kemudian orang tersebut datang kepada saya di ruangan saya. Dia meminta maaf kepada saya tentang kejadian tersebut. Dan dia mengatakan kepada saya, apabila pada kemudian hari dia melakukan kesalahan, dia minta untuk dipanggil ke ruangan saya saja. Jangan dilakukan di depan anak buahnya. Spontan pada waktu itu saya menjadi sadar. Benar juga apa yang dia katakan. Saya kemudian meminta maaf juga kepada dia tentang perlakuan saya kepadanya.

Itu kisah nyata yang terjadi pada saya. Waktu itu saya baru lulus kuliah, baru menjabat sebagai seorang pemimpin, masih sangat hijau dalam melakukan segala sesuatu yang terkait dengan kepemimpinan. Saya juga pada waktu itu tidak pernah membaca buku-buku tentang leadership dan sejenisnya. Jauh setelah kejadian tersebut, saya banyak membaca buku tentang manusia untuk membuka wawasan saya dan mengembangkan interpesonal skill saya. Banyak sumber yang mengatakan bahwa melakukan suatu peringatan kepada seseorang di tempat umum adalah hal yang salah secara humanitis. Efeknya akan sangat besar bagi orang tersebut. Pertama, mental akan menjadi down. Dan jika mental sudah down, akan sulit sekali untuk diangkat. Dampaknya, motivasi akan berkurang. Kedua, harga diri orang tersebut akan turun dimata publik yang menyaksikan. Dia bisa dianggap remeh oleh rekan-rekannya. Apalagi jika dia dingatkan untuk hal-hal yang sepele.

Fast forward ke beberapa waktu lalu, empat tahun setelah kejadian itu terjadi, saya mendapat curhat dari salah seorang rekan kerja saya. Dia adalah seorang petugas security. Dia menceritakan tentang temannya dia yang baru saja mendapat teguran dari atasannya. Kejadiannya sama persis dengan apa yang pernah saya alami. Temannya tersebut dimarahin habis-habisan didepan publik. Hanya karena suatu perkara sepele. Dampak yang terjadi sangat hebat dan benar-benar di luar akal sehat saya. Kedua orang yang terlibat tersebut akhirnya bertengkar, adu mulut, terakhir sampai keluar ancaman tindak kekerasan. Wow!!

John Maxwell mengatakan dalam salah satu bukunya, berikanlah pujian kepada seseorang di depan umum, namun ingatkanlah dia di tempat yang sunyi. Memang hal itu sangat benar. Kekuatan sebuah kata-kata sangat dashsat. Jika Anda dapat melakukan hal tersebut, memuji seseorang di depan umum, orang tersebut akan terangkat moralnya, motivasi akan meningkat dan dia menjadi respek dengan Anda. Sebaliknya jika anda memperingatkan dia di depan umum, apalagi dengan kasar, yang terjadi adalah sebaliknya. Motivasinya akan berkurang, dan tidak mustahil dia akan membenci Anda. Buat pujian yang sederhana, tapi jangan berlebihan. Jika Anda mempunyai seorang asisten yang jago masak, suatu saat ada pertemuan bisnis dengan klien Anda, cobalah memperkenalkan asisten Anda kepada rekan bisnis Anda sambil mengatakan bahwa masakan buatan asisten Anda ini sangat enak. Niscaya, besok pagi di meja kerja Anda tersedia masakan lezat hasil karya asisten Anda sebagi tanda terima kasih karena sudah memujinya di depan rekan bisnis Anda.

"Peringatkanlah temanmu secara sembunyi-sembunyi, puji mereka secara terbuka" -- Publilius Syrus

Charles Schwab, One Million Dollar Man


Charles Schwab memperoleh gaji sejuta dolar per tahun pada perusahaan bisnis baja, dan dia mengatakan bahwa upah yang sangat tinggi itu disebabkan karena kemampuannya menangani manusia. Percayakah Anda?! Seseorang digaji banyak hanya karena punya kemampuan menangani manusia.


Suatu sore Charles berjalan melewati pabrik baja tempat dia bekerja dan dia menemukan sekelompok karyawan yang merokok tepat persis dibawah tulisan "Dilarang Merokok". Apa yang dilakukan dia sebagai seorang Charles Schwab? Apakah Anda mengira bahwa Charles akan menegur habis-habisan? Jawabannya adalah tidak!

Charles Schwab berbincang-bincang dengan orang itu dengan ramah dan tidak mengucapkan sepatah katapun tentang apa yang telah mereka lakukan yang dengan jelas menyalahi aturan untuk tidak merokok di tempat tersebut. Akhirnya Charles malah memberikan kepada mereka cerutu dan berkata dengan mengedipkan matanya, "Saya akan merasa senang jika kalian merokok diluar".

Hanya itu yang dikatakan oleh Charles. Karyawan tersebut menjadi sadar bahwa Charles mengetahui bahwa mereka melanggar peraturan, namun mereka kagum kepada Charles karena dia tidak memaki-maki mereka. Charles sangat sportif kepada mereka, dan hal ini membuat mereka juga menjadi sportif pada Charles Schwab.
Quote from: Dale Carnegie, Menjadi Pemimpin Dalam Diri Anda.

Apa yang anda pikirkan setelah membaca cerita diatas? Awal setelah saya membaca buku tersebut, kebetulan cerita ini ditulis di halaman awal, saya menjadi terkagum dengan apa yang telah saya baca. Wow, sungguh suatu teknik human managerial yang menarik. Saya menjadi bersemangat untuk membaca apa yang ada di halaman berikutnya. Tapi itu dulu. Sekarang saya justru malah berpikir, cerita tersebut di adopt dari kisah di Amerika, bukan Indonesia. Saya sedikit pesimis dengan teknik tersebut, apa cocok untuk diterapkan di Indonesia mengingat Indonesia punya culture yang 180o berbeda dengan Amerika. Secara kebetulan juga karyawan tersebut punya pikiran yang terbuka dan sadar dengan sendirinya tanpa harus diingatkan lagi. Hanya cukup dengan sepotong kalimat yang menyentuh, sudah membuat mereka berubah. Saya hanya khawatir jika hal tersebut dipraktekkan di Indonesia, yang terjadi malahan karyawan merasa diberi angin dan menjadi makin membandel.

Perbedaan budaya perilaku membuat beberapa hal tidak dapat diadopsi dengan mudah. Banyak orang menjadi berkembang dengan mendapatkan pengetahuandan wawasan lewat membaca. Namun hal ini tidaklah cukup. Pengamatan dan pengalaman hidup akan membuat seseorang menjadi lebih bertumbuh dan dapat menerapkan nilai-nilai kehidupan yang mereka miliki dan yakini. Saya tidak mengatakan bahwa teori tersebut salah dan tidak cocok diterapkan di Indonesia. Yang lebih ingin saya tekankah adalah, jika Anda menjadi Charles Schwab di Indonesia, praktekkan teori tadi untuk orang-orang tertentu yang tentu saja sudah Anda mengerti dengan jelas kepribadiannya. Tidak semua dipukul rata dengan perlakukan seperti diatas. Itulah salah satu bentuk development yang dilakukan dengan cara memberikan penghargaan.

Tertarik untuk mencoba? Silakan...

What They Said [Part I]

Hubungan Anda hanya bisa sesehat diri Anda. – Neil Clark Warren

Orang yang menunda untuk segera melakukan hal baik tidak akan pernah melakukan apapun. – Samuel Johnson

Penggosip adalah orang yang bercakap kepada Anda mengenai orang lain. Orang yang menjemukan adalah orang yang bercakap kepada Anda tentang dirinya sendiri. Dan ahli percakapan brilian adalah orang yang bercakap kepada Anda tentang diri Anda. – William King

Penghargaaan terbesar yang pernah dibayarkan kepada saya adalah sewaktu seseorang menanyakan apa yang saya pikirkan, lalu menyimak jawaban saya. – Henry David Thoreau

Pemimpin yang baik membuat orang merasa bahwa mereka berada di jantung segala sesuatu, bukan di pinggir. – Warren Bennis

Kenangan adalah harta karun dan pelindung semua hal. – Cicero

Peringatkan temanmu secara sembunyi-sembunyi, puji mereka secara terbuka. – Publilius Syrus

Perlakukan seseorang sebagaimana adanya dan Anda akan menjadikannya makin buruk. Namun, perlakukan seseorang seolah dia telah menjadi apa yang dia berpotensi capai, dan Anda menjadikannya apa yang seharusnya. – Goethe

Tidak ada orang yang memiliki kemakmuran begitu tinggi dan kuat yang dapat dikecilkan hatinya dengan dua tau tiga kata; dan tidak ada bencana yang tidak bisa diberikan oleh perkataan yang tepat. – Ralph Waldo Emerson

Seperti buah apel emas di pinggan perak, begitulah perkataan yang diucapkan pada situasi yang tepat. – Raja Salomo dari Israel

Menjauhlah dari orang yang berusaha memupus ambisi Anda. Orang kecil selalu melakukan itu, tetapi orang hebat membuat Anda merasa bahwa Anda juga dapat menjadi hebat. – Mark Twain

Impian berarti dikutuk dengan masa hidup singkat. – Candice Bergen

Kematian bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup. Kehilangan terbesar adalah apa yang mati di dalam diri kita sewaktu kita hidup. – Norman Cousins

Bila masing-masing orang diminta mengakui hasrat paling rahasianya, rahasia yang menginspirasi semua rencananya, semua tindakannya, dia akan berkata, “Saya ingin dipuji.” – E. M. Cioran

Saya melakukan dengan terbaik yang saya tahu, sebaik yang saya bisa, dan saya berketetapan untuk terus melakukannya – Abraham Lincoln

Jangan menyembunyikan rahasia Anda dari teman Anda, atau Anda patut kehilangannya – Peribahasa Portugis

Khilaf adalah sifat manusia; memaafkan bukanlah kebijaksanaan perusahaan – Unknown

Karena tidak ada niat kita yang tanpa cela dan tidak ada yang kita capai tanpa memperhatikan batasan serta kemungkinan gagal yang kita sebut manusiawi, kita diselamatkan oleh pengampunan – David Augsburger

Saya tidak tahu akan seperti apa peruntungan Anda nantinya, tapi satu hal yang saya tahu, satu-satunya di antara kalian yang akan sungguh-sungguh bahagia adalah yang pernah mencari dan menemukan cara melayani. – Albert Schweitzer

Anda belum hidup hari ini sampai Anda melakukan sesuatu untuk seseorang yang tidak pernah bisa membalasnya bagi Anda. – John Bunyan

Terdapat ambisi yang lebih mulia dibandingkan sekedar berdiri menjulang di dunia ini, yaitu untuk membungkuk dan mengangkat umat manusia sedikit lebih tinggi – Hendy Van Dyke

Peluang kecil seringkali merupakan awal usaha hebat. – Demosthenes

Hal terpenting dalam komunikasi adalah mendengar apa yang tak terucap. – Peter Druker

Pelatih yang bisa menggambarkan permainan pada sebuah papan tulis amat mudah didapati. Pelatih yang berhasil adalah mereka yang masuk ke dalam pemainnya dan memotivasi mereka. – Vince Lombardi

Setelah kata kerja “mencintai”, “menolong” adalah kata kerja paling indah di dunia. – Berth Vin Suttner

Anda dapat memperoleh segala yang Anda inginkan dalam hidup jika menolong cukup banyak orang mendapatkan apa yang mereka inginkan. – Zig Ziglar

Berusahalah tidak menjadi orang sukses, alih-alih berusahalah menjadi orang yang bernilai. – Albert Einstein

Anda tidak dapat membuat sesama merasa penting dengan kehadiran Anda jika diam-diam Anda merasa dia bukanlah siapa-siapa. – Les Giblin

Banyak orang lebih mengharapkan Anda mendengar ceritanya daripada mengabulkan permintaannya. – Phillip Stanhope, Earl of Chesterfield

Alam semesta terdiri atas kisah, bukan atom. – Muriel Rukeyser

Pertanyaan hidup yang paling bertahan lama dan mendesak adalah: Apa yang Anda lakukan untuk orang lain? – Martin Luther King, Jr.

Ketika kita menahan diri untuk memberi, dengan mentalitas kelangkaan, sedikit hal yang kita punya akan makin sedikit. Saat kita memberi dengan murah hati, dengan mentalitas berkelimpahan, apa yang kita bagikan menjadi berlipat ganda. – Henri Nouwen

Ingatlah bahwa nama seseorang merupakan nama termanis dan terpenting yang terdengar bagi orang itu. – Dale Carnegie

Pujian dari orang lain mungkin akan berguna dalam mengajari kita mengenai – bukan keadaan kita sekarang – tetapi seperti apa kita sepatutnya. – August W. Hare

Kekuatan kata-kata amatlah besar. Kata yang dipilih dengan baik sering kali diucapkan untuk menghentikan tentara di udara, mengubah kekalahan menjadi kemenangan, dan menyelamatkan sebuah kerajaan. – Emile De Girardin

Dukungan tertulis datang langsung dari hati, tak terputus dan tak terhalang. Itulah sebabnya, tulisan itu penuh kekuatan. – David Jeremiah

Ukuran terpenting dari seberapa baiknya saya memainkan sebuah permainan adalah dari seberapa lebih baiknya saya dalam membuat teman satu tim bermain. – Bill Russell, pemenang kejuaraan NBA terbanyak di antara pemain lain

Merupakan salah satu upah terindah dari hidup bahwa tak ada orang yan bisa secara tulus menolong orang lain tanpa menolong dirinya sendiri – Ralph Waldo Emerson

Pacarin, Kalo Perlu Ajak Kawin

What do you think with the title?

Ini bukan tentang teknik berpacaran, tapi tentang teknik pendekatan dan motivasi. Pada awal saya pindah kerja, saya merasa stress. Saya datang sebagai seorang kepala, bukan staff. Saya harus memimpin orang-orang yang jauh lebih senior dari saya di perusahaan itu. Tentu saja dengan like and dislike mereka terhadap saya. Satu persatu dapat saya taklukkan (bukan dalam pertandingan tinju atau smack down). Menaklukkan dalam arti influence. Bagaimana membuat mereka semua satu visi dengan saya, menghargai dan menghormati saya sebagai pemimpin mereka. Tetapi ada satu orang yang very difficult untuk ditaklukkan, dan kebetulan wanita.

Singkat kata, saya sempet depresi... nih orang susah bener diajak ngomong. Tapi saya paham bener, tipikal orang gini harus dielus dari bawah. Saya sempet curhat dengan atasan saya yang kebetulan tidak sekota dengan saya. Saya cerita panjang lebar. Dia malah tertawa. Terus dia bilang gini, "Lu belum punya cewe kan? Udah.. deketin... tempel aja... pacarin, kalo perlu ajak kawin, ntar pasti luluh". Saya dalam hati bingung, mampus dong kalo gitu.

Tapi itu hanya permainan kata-kata dari atasan saya. Saya mengerti apa yang dia maksudkan. Maksudnya, saya mesti ganti metode pendekatan ke bawahan saya. Cari cara yang lain, yah... sedikit rayuan gombal di era pacaran. Walhasil.. setelah metode berganti, takluk juga tuh.

Inti dari permasalahan ini sebenarnya sepele. Pendekatan kepada seseorang itu sangat penting. Tiap manusia adalah unik. Masing-masing punya kepribadian berbeda-beda. Tinggal bagaimana cara menyentuh dia agar masuk ke bagian kita. Bahasa keren nya adalah influence. Bagaimana kita mempengaruhi orang lain untuk mengikuti kita.

Banyak cara untuk mempengaruhi seseorang. Sebenarnya, dari pengalaman saya, kunci influence cuma satu. Kita harus mengerti dunia mereka. Itu saja. Misalkan kita mau mempengaruhi tukang becak buat pilih kita jadi walikota, pelajari dulu dunia becak. Gimana cara jalanin becak yang bener, cara merawat becak yang bener, dll

Dengan kita mengerti dunia mereka, kita pasti akan mendapatkan respek dari mereka. Mereka akan menghargai kita, mereka merasa bahwa kita mengerti apa yang mereka kerjakan. Kita mendapatkan respek mereka bukan dari otoriter kita, bukan dari kekuatan kita.

Selamat mencoba

Pernahkah Anda Memimpin Diri Anda Sendiri?

Suatu hari, saya ga sengaja bongkar-bongkar buku dari dalam kardus. Kardus itu adalah kardus bekas tempat saya menimbun buku-buku bersejarah. Buku-buku penting waktu kuliah yang sekarang sudah kaga dipake lagi, plus buku-buku yang didapat setelah kuliah. Tapi sayang, saya ga sempat membaca buku-buku itu sampai akhirnya saya menemukan sebuah buku yang didapat waktu itu pelatihan. Judulnya "Menjadi Pemimpin Dalam Diri Anda".

Salah satu isi buku itu yang menarik bagi saja adalah bagaimana para pemimpin memperlakukan bawahnya. Saya sering membaca di artikel-artikel, di blog, di forum, banyak orang yang mengeluhkan sikap dari pimpinan mereka. Well... Pada dasarnya, bagi saya, semua orang adalah pemimpin. Dia pasti memimpin setidaknya 1 orang, yaitu dirinya sendiri. Pertanyaannya, pernahkan anda merasa bahwa anda memimpin diri anda sendiri?

Berikut ini salah satu kutipan ceritanya. Mungkin beberapa udah ada yang dengar.

Cerita ini tentang seseorang bernama Charles Schwab. Dia adalah seorang yang bekerja dibagian Human Resources di salah satu pabrik baja. One day, dia bertemu dengan beberapa orang karyawan pabrik yang sedang merokok, tepat di bawah tulisan "DILARANG MEROKOK". Apa yang dilakukan? Memarahi pekerja itu? Memecatnya? Sama sekali tidak. Dia dengan asyik nya mengajak mereka mengobrol. Tak lama kemudian dia memberikan cerutu kepada mereka dan mengatakan "Saya akan sangat senang jika kalian merokok diluar".

Well, itulah kalimat yang muncul dari seorang ahli hubungan antar manusia. Apa yang terjadi dengan para karyawan tadi? Mereka sadar bahwa mereka telah melanggar peraturan, tapi mereka tidak dihukum. Mereka merasa sungkan kepada Schwab. Dan pastinya hal itu tidak akan terjadi lagi.

Pernahkan anda terpikir untuk melakukan hal seperti itu? Seperti yang dilakukan oleh Schwab? Jika anda bisa seperti itu, artinya anda salah satu pemimpin yang sukses.

Untuk direnungkan:
Mungkinkah hal itu terjadi di Indonesia? Dengan budaya pekerja yang sedemikian komplek dengan 1001 alasannya. Apakah mungkin yang terjadi? Apakah pekerja yang 'diperingatkan secara halus' tadi akan merasa sungkan? Ataukah malah mengulangi lagi karena mereka merasa, "oh ga masalah melanggar peraturan, toh ya hanya diajak ngomong baek-baek"?

Temukan jawabannya jika anda sudah menjadi seorang pemimpin.


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting Coupons